Senin, 21 Desember 2015
Untukmu...
Boleh aku berpuitis?
Sekuntum cinta merekah di samping hari yang gerah
Di tengah rinai dingin terlukis segenggam rindu
Adakah tak bertepuk sebelah tangan?
Awal dari sebuah kekaguman dari hijrahnya hatimu
Lalu mencoba bercengkrama dengan bayangan masa depan
Secawan kasih atas nama-Nya mendadak mengganggu
Adakah kunci untuk membuka pintu hatimu?
Kau bilang dulu bergaun kelam
Aku pun demikian
Kini putih ada di hadapan
Adakah kesempatan untuk kita dapati bersama?
Ini sebuah kata hati untukmu yang kini ada di hati
Bersama Bismillah aku coba melangkah mencarimu
Untuk bersama sujud di hadapan wajah-Nya…
Bandung, April ‘10
Sajak Nakal Sebelum Malam
Sajak Nakal Sebelum Malam
Kedua kalinya, aku buat kau tercengang
Ini kubuat lagi sebuah sajak nakal…
Ini sebilah tangan
Mencoba meraba sesuatu yang lembut di dada
Lalu turun ke tengah pinggang dan melirih
‘Hasil cinta…’
Di balik gaun tipis warna alam
Kukecup sesuatu yang menjadikan kenangan antara esok dan lusa
Lalu terpatri selamanya
Masih kau telanjang di atas awan berderai
Aku ingin kembangkan dua pahamu
Lalu menengok apa yang menjadi seribu kepenasaran kaum Adam
Adalah hal keindahan tak biasa
Antara istimewa dan menjijikan
Dua sifat kaum Hawa yang pandai menangis tersedu
Ini sudah malam
Selimutmu belum kau kenakan, Sayang
Adakah waktu sebelum terlelap kita bergumul seperti dulu?
Lalu berbagi desahan antara cinta dan doa?
Biar tasbih tetap tergelung di leher sang waktu
Kusenggamai kau dari depan, Sayang
Biar kubisa rasakan tatapan merdumu ketika tengadah
Dan kau mainkan kedua tanganku
Di dadamu, di pinggangmu, di balik gaunmu,
Di bagian terdalam dari itu
Hingga kita sama-sama merasakan satu nikmat-Nya
Dalam beribadah pada-Nya…
Kedua kalinya, aku buat kau tercengang
Ini kubuat lagi sebuah sajak nakal…
Ini sebilah tangan
Mencoba meraba sesuatu yang lembut di dada
Lalu turun ke tengah pinggang dan melirih
‘Hasil cinta…’
Di balik gaun tipis warna alam
Kukecup sesuatu yang menjadikan kenangan antara esok dan lusa
Lalu terpatri selamanya
Masih kau telanjang di atas awan berderai
Aku ingin kembangkan dua pahamu
Lalu menengok apa yang menjadi seribu kepenasaran kaum Adam
Adalah hal keindahan tak biasa
Antara istimewa dan menjijikan
Dua sifat kaum Hawa yang pandai menangis tersedu
Ini sudah malam
Selimutmu belum kau kenakan, Sayang
Adakah waktu sebelum terlelap kita bergumul seperti dulu?
Lalu berbagi desahan antara cinta dan doa?
Biar tasbih tetap tergelung di leher sang waktu
Kusenggamai kau dari depan, Sayang
Biar kubisa rasakan tatapan merdumu ketika tengadah
Dan kau mainkan kedua tanganku
Di dadamu, di pinggangmu, di balik gaunmu,
Di bagian terdalam dari itu
Hingga kita sama-sama merasakan satu nikmat-Nya
Dalam beribadah pada-Nya…
Ketika Tuhan Jatuh Cinta
Langit adalah kitab yang terbentang
Bumi adalah kitab yang terhampar
Manusia adalah kitab yang berjalan
Sedangkan Al Qur'an adalah cahaya
di dalam kegelapan
Tidakkah kau renungkan
bahwa segala intrik yang terjadi
yang memaksa kita menitikkan air mata
adalah pertanda
KETIKA TUHAN JATUH CINTA??
from my best selling novel:
"KETIKA TUHAN JATUH CINTA"
Bumi adalah kitab yang terhampar
Manusia adalah kitab yang berjalan
Sedangkan Al Qur'an adalah cahaya
di dalam kegelapan
Tidakkah kau renungkan
bahwa segala intrik yang terjadi
yang memaksa kita menitikkan air mata
adalah pertanda
KETIKA TUHAN JATUH CINTA??
from my best selling novel:
"KETIKA TUHAN JATUH CINTA"
Langganan:
Komentar (Atom)



